Rabu, 05 Juni 2013

Agama Baha’i


Sejarah
Agama Bahá’í dimulai di Iran pada abad 19.Pendirinya bernama Bahá’u’lláh.Pada awal abad kedua puluh satu, jumlah penganut Bahá’í sekitar enam juta orang yang berdiam di lebih dari dua ratus negeri di seluruh dunia.
Dalam ajaran Bahá’í, sejarah keagamaan dipandang sebagai suatu proses pendidikan bagi umat manusia melalui para utusan Tuhan, yang disebut para "Perwujudan Tuhan". Bahá’u’lláh dianggap sebagai Perwujudan Tuhan yang terbaru.Dia mengaku sebagai pendidik Ilahi yang telah dijanjikan bagi semua umat dan yang dinubuatkan dalam agama Kristen, Islam, Buddha, dan agama-agama lainnya. Dia menyatakan bahwa misinya adalah untuk meletakkan pondasi bagi persatuan seluruh dunia, serta memulai suatu zaman perdamaian dan keadilan, yang dipercayai umat Bahá’í pasti akan datang.
Mendasari ajaran Bahá’í adalah asas-asas keesaan Tuhan, kesatuan agama, dan persatuan umat manusia.Pengaruh dari asas-asas hakiki ini dapat dilihat pada semua ajaran kerohanian dan sosial lainnya dalam agama Bahá’í. Misalnya, orang-orang Bahá’í tidak menganggap "persatuan" sebagai suatu tujuan akhir yang hanya akan dicapai setelah banyak masalah lainnya diselesaikan lebih dahulu, tetapi sebaliknya mereka memandang persatuan sebagai langkah pertama untuk memecahkan masalah-masalah itu. Hal ini tampak dalam ajaran sosial Bahá’í yang menganjurkan agar semua masalah masyarakat diselesaikan melalui proses musyawarah. Sebagaimana dinyatakan Bahá’u’lláh: "Begitu kuatnya cahaya persatuan, sehingga dapat menerangi seluruh bumi." Iman Baha'i adalah agama Abrahamik.[1]
Ajaran agama

Ketuhanan Yang Maha Esa

Keyakinan Agama  Bahá'í pada Tuhan Yang Maha Esa berarti bahwa alam semesta dan semua makhluk serta segala kekuatan yang ada di dalamnya telah diciptakan oleh satu Wujud supernatural yang tunggal.
Berbagai sebutan seperti Tuhan, Allah, Yahweh, dan Brahma semuanya merujuk pada Satu Wujud Ilahi, yang sifat-Nya tidak bisa diketahui dan dipahami oleh manusia.
Kita belajar tentang Tuhan melalui para Utusan-Nya, yang mengajar dan membimbing umat manusia[2]

Semua agama berasal dari Tuhan

Ketika seorang Bahá'í mengatakan bahwa semua agama adalah satu, itu tidak berarti bahwa semua keyakinan dan  masyarakatnya adalah sama. Melainkan, dia meyakini bahwa Tuhan telah mengungkapkan Diri-Nya melalui serangkaian Utusan Ilahi, yang tujuannya adalah untuk membimbing dan mendidik umat manusia.Mereka semua adalah ungkapan dari tujuan Ilahi yang tunggal, "Inilah Agama Allah yang tak berubah-ubah, abadi pada masa lampau, kekal pada masa yang akan datang."[3]

Seluruh umat manusia adalah satu keluarga

Ajaran-ajaran Bahá’í menekankan bahwa kita semua, sebagai ciptaan dari satu Tuhan, adalah bagian dari satu keluarga umat manusia. Bahá’u’lláh berkata, “Kemah kesatuan telah ditegakkan; janganlah engkau memandang satu sama lain sebagai orang asing. Engkau adalah buah-buah dari satu pohon dan daun-daun dari satu dahan.”Orang-orang hampir dari setiap latar belakang, di setiap negara, telah menjadi Bahá’í.[4]

Pria dan wanita adalah sama

Kesetaraan penuh dan kesadaran yang kuat akan kemitraan antara perempuan dan laki-laki sangatlah penting bagi kemajuan manusia dan transformasi masyarakat.
“Pria dan wanita telah dan akan selalu sama dalam pandangan Tuhan," kata Bahá'u'lláh.
Masyarakat Bahá'í di seluruh dunia telah berada di barisan depan dari gerakan untuk memajukan hak-hak wanita selama lebih dari satu abad.[5]

Perdamaian Dunia adalah kebutuhan yang sangat mendesak dari jaman ini

Apakah perdamaian akan dicapai hanya setelah kengerian-kengerian yang tak terbayangkan yang disebabkan sikap keras kepala manusia untuk tetap berpegang teguh pada pola tingkah laku yang lama, ataukah sekarang perdamaian itu akan diraih melalui suatu tindakan nyata dari permusyawarahan, inilah pilihan bagi semua yang mendiami bumi.Masyarakat Bahá’í percaya bahwa umat manusia dapat menghadapi cobaan besar ini dengan keyakinan akan hasil akhirnya yang baik.[6]

Prinsip Ajaran Bahá’i[7]

Berikut ini adalah Prinsip dan Ajaran Bahá’i:
  • Percaya Kepada Tuhan Yang Maha Esa
  • Percaya Kepada Para Rasul Sebagai Utusan Tuhan
  • Percaya Kepada Akhirat
  • Dasar Semua Agama Adalah Satu
  • Kesatuan Umat Manusia
  • Penyelidikan Kebenaran Secara Bebas
  • Persesuaian Agama Dan Ilmu Pengetahuan
  • Persamaan Hak Antara Pria Dan Wanita
  • Kesucian Dan Kemurnian Sangatlah Penting
  • Segala Prasangka Harus Dihapuskan
  • Pendidikan Wajib Bagi Semua Anak-Anak
  • Perdamaian Dunia
  • Bahasa Sedunia
  • Bermusyawarah Dalam Segala Hal
  • Wajib Bekerja Untuk Mencari Nafkah
  • Penyelesaian Masalah Ekonomi  Secara Rohani
  • Kemiskinan Dan Kekayaan Yang Berlebihan Harus Dihapuskan
  • Tidak Boleh Bercampur Tangan Dalam  Urusan Politik
  • Kesetiaan Kepada Pemerintah
Kitab suci
Baha`i Holy Writing atau yang disebut sebagai Al-Kitab Al-Aqdas (Kitab Suci) merupakan kitab suci agama Baha`i yang ditulis oleh Baha`ullah.[8] Dalam Ayat-ayat Suci-Nya, yang diwahyukan antara 1853-1892 itu, Baha'u'llah mengulas berbagai hal seperti keesaan Tuhan dan fungsi Wahyu Ilahi; tujuan hidup;.ciri dan sifat roh manusia; kehidupan sesudah mati; hukum-hukum dan prinsip-prinsip Agama; ajaran-ajaran akhlak; perkembangan kondisi dunia seta masa depan umat manusia. Selain dituntun oleh Tulisan Suci Baha'u'llah, kehidupan masyarakat Baha'i juga dibimbing melalui buku-buku dan surat-surat yang ditulis 'Abdul-Baha dan Shoghi Effendi.Buku-Buku Baha'i kini dapat dibaca dalam lebih dari 800 bahasa.[9]






















[1]http://id.wikipedia.org/wiki/Baha%27i
[2]http://bahaiindonesia.org/
[3] ibid
[4] ibid
[5] ibid
[6] ibid
[7] ibid
[8]http://thaybah.or.id/agama-bahai-mengaku-islam/
[9]http://id.wikipedia.org/wiki/Pembicaraan:Baha%27i

Tidak ada komentar:

Posting Komentar