Rabu, 05 Juni 2013

Agama Shinto


Sejarah
Shinto berasal dari kata Shin dan To, yaitu kombinasi dua huruf kanji yang berarti Jalan Kami (Tuhan atau Dewa). Nama ini mulai dipakai pada abad ke 6, bersamaan dengan kedatangan agama Buddha, untuk membedakan dengan jelas agama lama dengan agama baru. Jadi jelas sekali, kalau masyarakat Jepang dulu menjalankan kepercayaannya apa adanya dan tanpa nama atau istilah apapun.
Shinto mempunya sejarah yang cukup panjang dan tua yaitu dimulai dari masa Jomon Period (11.500-300 BC) ada indikasi masyarakat jaman itu sudah menjalankan ritual Samanisme yang mirip dengan ritual Shinto sekarang.Kemudian pada masa Kofun Period (250-552 CE) mulai ditemukan catatan yang lebih lengkap tentang kepercayaan ini.Kuil kuno Ise dan kuil Izumo Taisha yang terletak di barat daya dan di timur laut kepulauan Jepang adalah beberapa di antara kuil yang dibangun pada masa ini dan masih berdiri hingga kini.
Bahkan yang mungkin paling unik adalah tempat suci agama Shinto pada awalnya kebanyakan tidak memiliki bangunan apapun jadi hanya berupa tanah kosong, hutan, sungai ataupun gunung dan pendirian bangunan ini dimulai karena pengaruh dari agama Buddha yang mulai masuk pada masa itu.
Kemudian pada masa Restorasi Meiji, Shinto ditetapkan menjadi agama resmi negara namun setelah perang dunia kedua Jepang, status Shinto sebagai agama negara berakhir karena Jepang beralih menjadi negara sekular dan agama dianggap tidak lebih sebagai kegiatan budaya.[1]
Shinto dan Ajarannya
K a m i
Istilah “Kami” dalam agama Shinto dapat diartikan dengan “di atas” atau “unggul”, sehingga apabila dimaksudkan untuk menunjukkan suatu kekuatan spiritual, maka kata “Kami” dapat dialih bahasakan (diartikan) dengan “Dewa” (Tuhan, God dan sebagainya). Jadi bagi bangsa Jepang kata “Kami” tersebut berarti suatu objek pemujaan yang berbeda pengertiannya dengan pengertian objek-objek pemujaan yang ada dalam agama lain.[2]
Istilah Kami diterapkan terhadap kekuatan dan objek-objek tertentu, tanpa membedakan apakah objek tersebut adalah benda hidup atau mati, bersifat baik atau buruk.Semua yang memiliki sifat-sifat misteriusdan menimbulkan rasa segan dan takut dapat dianggap sebagai Kami.
Ada 4 hal yang mendasari konsepsi kedewaan dalam agama Shinto, yaitu :
1.      Dewa-dewa tersebut pada umumnya merupakan personifikasi gejala-gejala alam.
2.      Dewa-dewa tersebut dapat pula berarti manusia
3.      Dewa-dewa tersebut dianggap mempunyai spirit yang mendiami tempat-tempat di bumi dan mempengaruhi kehidupan manusia.
4.      Pendekatan manusia terhadap dewa-dewa tersebut bertitik-tolak dari perasaan segan dan takut.[3]
Adapun beberapa dewa-dewi, mahkluk gaib, roh-roh, yang dipuja dalam Shinto antara lain:
1.      Naga (mahkluk berupa ular)
2.      Dosojin, Ebisu (salah satu dewa keberuntungan Jepang)
3.       Dewa Hachiman, Henge, Kappa, Kitsune (Roh Srigala)
4.       Oinari (Roh Srigala)
5.       Shishi (Singa)
6.       Su-ling (Empat Binatang Pelindung)
7.       Tanuki (Sejenis Dewa
8.       Inari (dewa makanan)
9.       Aragami (Roh ganas dan jahat)
10.   Dewa-dewa Tanah dan Dewa-dewa Gunung dan Dewa-dewa Pohon
11.   Dewa-dewa Air dan Dewa-dewa Laut
12.   Dewa-dewa Api
13.   Dewa-dewa manusia
Konsep tentang manusia
Hubungan kami dengan manusia terjalin suatu hubungan antara orangtua dan anak, atau antara nenek moyang dengan keturunannya.Dengan demikian “manusia adalah putra kami”. Ungkapan ini memiliki 2 macam arti :
1) Kehidupan manusia berasal dari kami, sehingga dianggap suci.
2) Kehidupan sehari-hari adalah pemberian dari kami.
Dalam agama Shinto, manusia memiliki banyak arti, diantaranya :
* Hito (tempat tinggal spirit)
* aohito-gusa (manusia-rumput hijau) Dalam bahasa Jepang kuno
* ame no masu-jito (manusia- langit-yang berkembang)
konsep dosa tidak dikenal dalam agama Shinto. Segala bentuk upacara keagamaan yang dikerjakan pada dasarnya bertujuan untuk menciptakan kondisi “suci” yang sangat diperlukan dalam mendekati kami.Penyakit, luka, menstruasi, dan kotoran-kotoran lainnya dianggap sebagai hal-hal yang dapat merusak hubungan manusia dengan kami.
* Ajaran Tentang Dunia
Agama Shinto adalah termasuk tipe agama “lahir satu kali”.Dalam arti, memandang dunia ini sebagai satu-satunya tempat kehidupan bagi manusia. Meskipun demikian, dalam pemikiran Shinto ada 3 macam dunia, yaitu :
1.      Tamano-hara, yang berarti “tanah langit yang tinggi”, yaitu dunia menjadi tempat tinggal para dewa langit.
2.      Yomino-kuni, yakni tempat orang-orang yang sudah meningal dunia, yang dibayangkan sebagai dunia yang gelap, kotor, jelek, dan menyengsarakan.
3.      Tokoyono-kuni, yang berarti “kehidupan yang abadi”, ”negeri yang jauh diseberang lautan”, atau “kegelapan yang abadi”, yaitu sebuah dunia yang dianggap penuh kenikmatan dan kedamaian, tempat tinggal arwah orang-orang yang meninggal dunia dalam keadaan suci.
Ketiga dunia tersebut sering pula disebut dengan kakuriyo (dunia yang tersembunyi), sementara dunia tempat tinggal manusia hidup disebut ut-sushiyo (dunia yang terlihat atau dunia yang terbuka).
Menurut Motoori Morinaga dalam mite terdapat ketentuan dari dewi matahari mengenai suatu keabadian sejarah. Morinaga juga menyatakan bahwa dunia manusia ini akan senantiasa tumbuh dan berkembang serta berubah terus menerus. Makanya oleh sebab itu agama Shinto tidak memiliki ajaran tentang hidup dihari kemudian atau hidup setelah mati, meskipun percaya akan adanya suatu dunia yang penuh kenikmatan dan kedamaian tempat tinggal arwah orang-orang yang hidupnya suci. Agam tersebut agaknya lebih menekankan pada pandangan yang lebih berorientasi kekinian dan keduniaan, apalagi dunia dianggap sebagai tempat tinggal manusia yang tidak akan pernah musnah. Berdsarkan pandangan semacam ini maka saat-saat kehidupan manusia saat ini merupakan saat-saat yang penuh dengan nilai.Setiap pemeluk Shinto diharuskan untuk berperan aktif secara langsung dalam perkembangan dunia yang abadi, yang harus memanfaatkan setiap saat dalam kehidupan semaksimal mungkin.Mentalitas seperti ini, mungkin merupakan diantara lain-lain faktir yang telah membawa bangsa jepang menuju tingkat kesejahteraan dan kemakmuran hidup duniawi yang cukup tinggi seperti yang dapat dilihat sekarang.[4]
Ritual keagamaan
Matsuri adalah kata dalam bahasa Jepang yang menurut pengertian agama Shinto berarti ritual yang dipersembahkan untuk Kami, sedangkan menurut pengertian sekularisme berarti festival, perayaan atau hari libur perayaan.Matsuri diadakan di banyak tempat di Jepang dan pada umumnya diselenggarakan jinja atau kuil, walaupun ada juga matsuri yang diselenggarakan gereja dan matsuri yang tidak berkaitan dengan institusi keagamaan.Di daerah Kyushu, matsuri yang dilangsungkan pada musim gugur disebut Kunchi.Sebagian besar matsuri diselenggarakan dengan maksud untuk mendoakan keberhasilan tangkapan ikan dan keberhasilan panen (beras, gandum, kacang, jawawut, jagung), kesuksesan dalam bisnis, kesembuhan dan kekebalan terhadap penyakit, keselamatan dari bencana, dan sebagai ucapan terima kasih setelah berhasil dalam menyelesaikan suatu tugas berat.Matsuri juga diadakan untuk merayakan tradisi yang berkaitan dengan pergantian musim atau mendoakan arwah tokoh terkenal.Makna upacara yang dilakukan dan waktu pelaksanaan matsuri beraneka ragam seusai dengan tujuan penyelenggaraan matsuri. Matsuri yang mempunyai tujuan dan maksud yang sama dapat mempunyai makna ritual yang berbeda tergantung pada daerahnya. Pada penyelenggaraan matsuri hampir selalu bisa ditemui prosesi atau arak-arakan Mikoshi, Dashi (Danjiri) dan Yatai yang semuanya merupakan nama-nama kendaraan berisi Kami atau objek pemujaan. Pada matsuri juga bisa dijumpai Chigo (anak kecil dalam prosesi), Miko (anak gadis pelaksana ritual), Tekomai (laki-laki berpakaian wanita), Hayashi (musik khas matsuri), penari, peserta dan penonton yang berdandan dan berpakaian bagus, dan pasar kaget beraneka macam makanan dan permainan
Dalam teologi agama Shinto dikenal empat unsur dalam matsuri: penyucian (harai), persembahan, pembacaan doa (norito), dan pesta makan. Matsuri yang paling tua yang dikenal dalam mitologi Jepang adalah ritual yang dilakukan di depan Amano Iwato. Matsuri dalam bentuk pembacaan doa masih tersisa seperti dalam bentuk Kigansai (permohonan secara individu kepada jinja atau kuil untuk didoakan dan Jichinsai (upacara sebelum pendirian bangunan atau konstruksi). Pembacaan doa yang dilakukan pendeta Shinto untuk individu atau kelompok orang di tempat yang tidak terlihat orang lain merupakan bentuk awal dari matsuri. Pada saat ini, Ise Jingū merupakan salah satu contoh kuil agama Shinto yang masih menyelenggarakan matsuri dalam bentuk pembacaan doa yang eksklusif bagi kalangan terbatas dan peserta umum tidak dibolehkan ikut serta. Sesuai dengan perkembangan zaman, tujuan penyelenggaraan matsuri sering melenceng jauh dari maksud matsuri yang sebenarnya. Penyelenggaraan matsuri sering menjadi satu-satunya tujuan dilangsungkannya matsuri, sedangkan matsuri hanya tinggal sebagai wacana dan tanpa makna religius[5]
Kitab suci agama Shinto yang paling tua ada dua buah, yang disusun sepuluh abad sepeninggal Jimmu Tenno (660 SM) yang merupakan kaisar Jepang yang pertama, yaitu; Kojiki (Catatan dari hal-hal Kuno) yang mencatat peristiwa-peristiwa purbakala yang disusun pada 712 M, dan Nihongi (Sejarah Jepang) yang ditulis pada 720 M oleh seorang pangeran Jepang . Kemudian terdapat dua karya kemudian, yakni Yengishiki (Lembaga-lembaga pada masa Yengi), dan Manyoshiu yaitu kumpulan dari 10.000 daun adalah karya utama, tapi ini tidak dianggap sebagai kitab suci yang diwahyukan[6]
Tujuan Agama Shinto
Tujuan utama dari Shinto adalah mencapai keabadian di antara mahluk-mahluk rohani, Kami.Kami dipahami oleh penganut Shinto sebagai satu kekuasaan supernatural yang suci hidup di atau terhubung dengan dunia roh.Agama Shinto sangat animistik, sebagaimana kebanyakan keyakinan timur, percaya bahwa semua mahluk hidup memiliki satu Kami dalam hakikatnya.Hakikat manusia adalah yang paling tinggi, karena mereka memiliki Kami yang paling banyak.Keselamatan adalah hidup dalam jiwa dunia dengan mahluk-mahluk suci ini, Kami.Jalan Untuk Mencapai Tujuan Dalam Shinto keselamatan dicapai melalui pentaatan terhadap semua larangan dan penghindaran terhadap orang atau obyek yang mungkin menyebabkan ketidak sucian atau polusi.Persembahyangan dilakukan dan persembahan dibawa ke kuil untuk para Dewa yang dikatakan ada sejumlah 800 miliar di alam semesta.Manusia tidak mempunyai Tuhan tertinggi untuk ditaati, tapi hanya perlu mengetahui bagaimana menyesuaikan diri dengan Kami dalam berbagai manifestasinya.Kami seseorang tetap hidup setelah kematian, dan manusia biasanya menginginkan untuk berharga dan dikenang dengan baik oleh keturunannya.Oleh karena itu, pemenuhan kewajiban adalah unsur yang paling penting dari Shinto.[7]



[1]http://www.eonet.ne.jp/~limadaki/budaya/jepang/artikel/utama/agama_shinto.html
[2]Mukti Ali, Agama-Agama di Dunia,hal.241-246
[3] Ibid, h 254-255
[4]Mukti Ali, Agama-Agama di Dunia, h. 258
[5]http://id.wikipedia.org/wiki/Shinto
[6] ibid
[7] ibid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar